Selasa, 27 Oktober 2009

ANALISA KRITIS BUKU SEJARAH PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM


Oleh : AF. Muntashir, S.Sos.I

Pendahuluan

Sejarah dalam pandangan Islam tidak hanya berbicara masalah data dan fakta, akan tetapi sejarah merupakan dialektika nilai, pertarungan nilai. Karena sejarah membawa identitas sebuah entitas masyarakat akan masa lalunya. Kemajuan sebuah peradaban salah satunya bertumpu kepada sejarah. Dengan sejarahlah peradaban memiliki jati dirinya yang hakiki. Masyarakat yang melupakan sejarah akan mudah terjangkiti rasa inferior, mudah terombang-ambing dalam sebuah arus yang tidak jelas atau dengan kata lain krisis identitas. Padahal masa depan adalah fungsi dari masa lampau dan masa kini. T.S Eliot mengemukakan hal ini dengan tepat “Masa Kini dan Masa Lampau, Akan Muncul di Masa Depan dan Masa Depan Terdapat di Masa Lampau”.[1]


Dalam hal ini Allah Swt. Berfirman;

Artinya :

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (Q.S. Yusuf [12] : 111)[2]

Artinya :

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan Telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang Telah mereka makmurkan. dan Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri”. (Q.S. Ar Ruum : [30] : 9)

Allah Swt. dalam kedua ayat di atas telah memberikan gambaran begitu pentingnya sejarah bagi kehidupan umat manusia. Adapun di antara arti penting sejarah antara lain : Pertama, untuk kelestarian identitas kelompok dan memperkuat daya tahan kelompok itu bagi kelangsungan hidupnya. Kedua, sejarah berguna sebagai pengambilan pelajaran dan tauladan dari contoh-contoh di masa lampau, sehingga sejarah memberikan asas manfaat secara lebih khusus demi kelangsungan hidup. Ketiga, sejarah berfungsi sebagai sarana pemahaman mengenai hidup dan mati.[3]

Secara tegas bahwa terminologi sejarah dalam pandangan Islam adalah amanah dan pengakuan kebenaran yang disampaikan semata-mata karena Allah. Sebab sejarah bagi seorang muslim –sebagaimana Al Qur’an banyak memuat kisah para Nabi dan tokoh masa lampau- adalah suatu yang tidak lepas begitu saja dari dimensi keimanan. Apabila seorang muslim tidak meyakini sedikit saja atau keseluruhan dari kisah-kisah tersebut, maka rusaklah keyakinannya itu. Lantas bagaimana dengan kisah atau peristiwa yang tidak termuat di dalam Al Qur’an ?. Inilah pentingnya mempelajari hakekat sejarah.[4]

Melihat kenyataan hal itu, sejarawan muslim dituntut mengungkapkan yang benar dan, kalau perlu, mengorbankan segala usaha untuk sampai kepada tujuan tersebut. Sejarawan tidak boleh berbasa-basi terhadap seseorang, membohongi, ataupun mendzalimi. Tidak boleh, dengan alasan apa pun, memanipulasi amanah atau menyembunyikan kebenaran.[5] Untuk itu, seorang yang dapat dikatakan ahli sejarah, ia haruslah memiliki beberapa standar sebagaimana halnya yang terdapat dalam Ilmu Rijalul Hadits. Bisa saja salah satu persyaratannya ialah ia harus menguasai sekian banyak literatur dari berbagai sumber yang otoritatif, utamanya sejarah yang ditulis oleh para Ulama Muslim.

Ini salah satu upaya untuk menghindari pemalsuan dan penyelewengan sejarah untuk kepentingan sekelompok orang atau golongan atau untuk menghindari dari pendiskreditan seorang atau sekelompok orang atau golongan terkait dengan suatu peristiwa sejarah. Misal, masih adanya kontroversi terhadap tonggak awal Kebangkitan Nasional di Indonesia pasca kemerdekaan, antara Serikat Islam atau Budi Uetomo sebagai awal kebangkitan Nasional. Karena melihat antara data dan realita sejarah terdapat kontradiksi. Hal ini merupakan tanggung jawab para ahli sejarah untuk merumuskan suatu kode etik yang dapat dijadikan acuan dalam mengkaji sejarah serta juga mendapat pengakuan dari pemerintah secara yuridis. Kalau pun itu sudah ada, semestinya para sejarawan tidaklah membiarkan begitu saja. Karena akan berdampak pada pengkaburan dan ketidakjelasan identitas sejarah bangsa ini.

Adalah Abd. Karim, M.A, M.A. berkat hidayah dan taufik serta kemampuan yang telah Allah Swt. anugerahkan kepadanya, ia telah mampu mengemban amanah yang cukup berat itu dengan menghadirkan sebuah buku sejarah Peradaban Islam dengan judul “Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam”. Buku yang saat ini berada dihadapan kita semua, disamping kaya akan fakta-fakta perjalanan sejarah Islam, juga menampilkan wajah sejarah Islam yang segar, komprehensif dan verifikatif. M. Abd. Karim merupakan dosen SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) pada Fakultas Adab dengan jabatan Lektor Kepala. Meraih gelar Doktor (2003) dalam bidang Sejarah Islam di UIN Sunan Kalijaga.

Berangkat dari latar belakang di atas, maka makalah ini akan mencoba untuk memberikan analisa kritis deskriptif terhadap karya Dr. Muhammad Abd. Karim sebagai bentuk respon secara kritis serta apresiatif terhadap karyanya atau bisa dikatakan sebagai sebuah komentar. Karena seorang mukmin yang kuat itu lebih disukai Rasulullah ketimbang mukmin yang lemah. Artinya Rasulullah Saw. Mengajarkan kita untuk tidak taqlid, namun kita diperintahkan untuk ittiba’, lebih-lebih kita mampu berijtihad. Upaya yang dilakukan oleh penulis ini tidaklah layak dikatakan sebagai sebuah kritik, karena melihat penulis buku adalah seorang yang pakar dibidangnya (memiliki otoritas), sementara penulis makalah hanyalah seorang murid yang sedang dan selalu haus akan ilmu. Namun, manusia tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan, jadi ini juga bisa dikatakan sebagai Tawashau bil Haq wa Tawashau bis Shabr.

Adapun fokus pembahasan pada makalah ini lebih dititikberatkan pada masukan-masukan atau saran-saran kepada penulis buku serta apresiasi kepada penulis akan kemampuannya dalam memaparkan setiap peristiwa sejarah Islam, serta bagaimana penulis mengaitkan antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain , sehingga dapat diambil sebuah analisa yang komprehensif. Dari sini nantinya akan kelihatan bahwa buku tersebut tidak hanya sekedar memaparkan kronologi sebuah peristiwa sejarah, akan tetapi buku sejarah tersebut lebih bermakna, dengan kata lain memiliki kejelasan orientasi. Selanjutnya harapan penulis kepada Bapak Dr. Muhammad Abd. Karim untuk senantiasa tidak henti-hentinya berkarya dalam bidang sejarah, khususnya Sejarah Peradaban Islam Kajian Filosofis dalam upaya untuk membangun kembali Peradaban Islam Gemilang. Amin.

Pemikiran Dan Peradaban Islam

Pada pembahasan berikut ini penulis akan mencoba untuk menganalisa serta memberikan suatu kritik terhadap uraian Sejarah Peradaban Islam yang meliputi definisi peradaban Islam, baik secara bahasa maupun secara istilah.

Secara bahasa, definisi peradaban yang dikemukakan oleh penulis dalam bukunya cukup memberikan makna yang lengkap, salah satunya seperti dijelaskan bahwa peradaban berasal dari bahasa Jawa Kawi, peranakan dari bahasa Sangsekerta yaitu adab yang berarti sopan santun, tatakrama. Adapun lawannya adalah biadab yang artinya tidak sopan, tak tahu adat.[6] Secara istilah, penulis belum memberikan definisi yang definitif atau yang dipilih sebagai suatu definisi yang menjadi acuan penulis. Juga penulis belum secara tegas memberikan definisi peradaban Islam dalam konteks Islam sebagai sebuah peradaban. Meskipun, penulis menyebutkan sumber pemikiran dan peradaban Islam adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Penulis hanya menjelaskan definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa tokoh. Walaupun hal itu telah cukup menggambarkan apa itu peradaban Islam.[7] Namun, penting sekali penulis di sini memilih salah satu dari definisi tersebut untuk memberikan corak tersendiri bagi penulis dalam memaparkan apa itu peradaban dalam konteks Islam sebagai peradaban.

Sekedar sebagai perbandingan, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dalam sebuah makalahnya yang berjudul ‘Membangun Peradaban Islam Kembali’ menjelaskan bahwa “Islam yang diturunkan sebagai Din, sejatinya telah memiliki konsep seminalnya sebagai peradaban. Sebab kata Din itu sendiri membawa makna keberhutangan, susunan kekuasaan, struktur hukum, dan kecendrungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan mencari pemerintahan yang adil”.[8] Ini dapat dipahami bahwa Islam selain sebagai Agama, Islam juga sebuah Peradaban. Dengan kata lain ajaran Islam itu sendiri mengantarkan kepada terbentuknya sebuah peradaban. Oleh karena itu, ketika ajaran Islam atau agama Allah (Dinul Islam) disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama Madinah. Dari akar kata Din dan Madinah ini lalu dibentuk akar kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan.[9]

Jadi Peradaban Islam adalah suatu struktur sosial dan spiritual yang merupakan sumbangan Islam yang berharga bagi ummat manusia. Realitas sosial dan spiritual itu harus difahami secara integral, tidak dapat dipisah-pisahkan atau dilihat secara sendiri-sendiri tanpa saling-berkaitan seperti dalam tradisi dan kebudayaan Barat.[10] Menulis serta menyajikan Sejarah Peradaban Islam juga tidak bisa parsial. Menyajikan sejarah peradaban Islam harus menyajikan kedua realitas tersebut, yaitu realitas sosial dan spiritual. Dari sini juga nampak sekali bahwa definisi peradaban dapat didefinisikan secara konseptual.

Disebabkan basis peradaban Islam adalah wahyu, ajaran Islam itu sendiri (Din Al Islam) sebagai suatu sistem yang mewujud dalam suatu sistem sosial, maka hal ini juga bisa dipahami bahwa substansi Peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang meliputi keseluruhan pandangan tentang wujud, terutama pandangan tentang Tuhan. Dapat disimpulkan bahwa Worldview Islam menjadi basis dari Peradaban Islam.[11] Untuk itu, buku-buku sejarah haruslah dapat menghadirkan kehidupan umat Islam dan peradabannya yang segar dan kaya pengetahuan yang tidak hanya menceritakan peristiwa yang terkesan suram dan penuh dengan konflik. Namun menghadirkan Islam sebagai suatu peradaban yang berbasis ilmu pengetahuan dan menyajikan sejarah Islam dengan framework Islam.

Sebagai sebuah ilustrasi saja, berikut ini akan kami sajikan sebuah analisa sejarah dalam perspektif worldview Islam ketika menggambarkan Islam sebuah Imperium besar setara dengan Imperium Romanum dan Persia. Ini merupakan hasil dari pemahaman kami. Oleh karenanya masih ada hal-hal yang perlu disempurnakan, akan tetapi paling tidak memberikan sedikit gambaran terhadap apa yang dimaksud kami tentang penjelasan sebelumnya. Hal ini tidak bertujuan untuk mengajari atau menggurui penulis buku, kami hanya berharap kepada penulis akan karya-karyanya di bidang sejarah yang lebih segar dan progres dan kami tetap yakin kepada penulis adalah orang yang ahli dibidangnya. Adapun tulisan yang berkaitan dengan hal diatas dapat dibaca pada artikel yang berjudul “Islam Sebuah Imperium Ilmu” yang telah diposting pada tanggal 26 Oktober kemarin.

Meskipun demikian kami tetap memberikan apresiasi terhadap yang telah diusahakan penulis di dalam menyajikan peristiwa-peristiwa sejarah serta apa yang terdapat di dalam bukunya telah mampu memberikan suatu gambaran dan paradigma baru akan sejarah peradaban Islam. Di mana penulis telah memberikan keterangan serta penjelasan yang lengkap dari berbagai literatur sejarah serta membandingkan antara sumber sejarah yang dinilai kurang otoritatif dengan sumber yang lebih otoritatif, baik sumber-sumber buku dalam negeri, maupun luar negeri. Dengan referensi dan rujukan sumber-sumber sejarah primer dalam dan luar negeri tersebut menjadikan buku ini hadir di tengah-tengah pembaca dengan nuansa dan gaya bahasa yang sistematis, runtut dan logis, sehingga pembaca yang belum atau bahkan tidak berkeinginan membaca sejarah dikarenakan bahasa yang membosankan, dengan membaca buku ini ibarat menemukan oase di tengah padang pasir yang tandus. Untuk itu harapan besar kepada penulis untuk lebih mengembangkan karyanya akan sejarah peradaban Islam dalam nuansa dan konteks yang lebih progres. Sejarah yang dihadirkan mampu memberikan spirit dan etos kerja terhadap umat dalam rangka membangun Peradaban Islam kontemporer.

Dalam memaparkan sejarah pemikiran Islam, penulis sangat ringkas dan belum menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan pemikiran pada tiap fase sejarah. Bahkan, penulis tidak menjelaskan peranan para sahabat, Ulama atau para da’i yang membawa serta menyebarkan Islam. Seperti, perkembangan Islam di kota-kota cikal bakal tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam, semisal Baghdad, Kufah, Andalusia, Mongol, dan lain-lain. Akan tetapi usaha penulis untuk berusaha menyajikan sejarah pemikiran dan peradaban Islam sekaligus ini sangat luar biasa, sebab masih jarang sekali penulis-penulis sejarah yang memaparkan peristiwa sejarah secara kronologis yang disertai dengan perkembangan pemikiran pada setiap alur sejarah tersebut.

Kesimpulan

Buku yang telah ditulis oleh Dr. Muhammad Abd. Karim ini merupakan salah satu usaha untuk memberikan sumbangsih pemikiran terhadap khazanah literatur sejarah peradaban Islam. Mengingat betapa pentingnya mempelajari sejarah dalam kehidupan saat ini -lebih-lebih sejarah peradaban Islam- untuk memperteguh kembali identitas dan jati diri umat Islam akan masa lalunya dalam menggapai serta mencapai kehidupan dan peradaban yang lebih besar, yakni ‘Izzul Islam wal Muslimin ‘Kemulian Islam dan kaum Muslimin’.


DAFTAR PUSTAKA

1. Buku

Sardar, Ziauddin, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, (Bandung : Mizan, 1993

Zarkasy, Hamid Fahmi i [Ed.], Metodologi Pengkajian Islam : Pengalaman Indonesia – Malaysia, (Gontor : ISID, 2008)

Qutb, Muhammad, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam ?, (Jakarta : Gema Insani Perss, 1995

Abd. Karim, Muhammad, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam,(Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, 2007)

2. Artikel

Hamid Fahmi Zarkasyi, Membangun Peradaban Islam Kembali, Makalah yang dimuat di dalam situs www.insistsnet.com


Hamid Fahmi Zarkasyi, Diktata Mata Kuliah : Islamic Worldview, disampaikan dalam seminar kelas pada Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)


Hamid Fahmi Zarkasyi, Pandangan Hidup Islam Sebagai Framework Studi Islam, makalah yang dimuat di dalam blog Banihamzah.com



[1]Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, (Bandung : Mizan, 1993),hal.14

[2]Al Qur’an Terjamah Departemen Agama RI, Al Jumanatul ‘Ali. CV Penerbit J-ART, 2005.

[3]Hamid Fahmi Zarkasyi [Ed.], Metodologi Pengkajian Islam : Pengalaman Indonesia – Malaysia, (Gontor : ISID, 2008),hal.333 sebagaimana yang dikutip dari T. Ibrahim Alfian, Sejarah dan Permasalahan Masa Kini, (Yogyakarta : Universitas Gajah Mada, 1985).

[4]Muhammad Qutb, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam ?, (Jakarta : Gema Insani Perss, 1995),xi.

[5]Ibid,-

[6]Muhammad Abd. Karim, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam,(Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, 2007),hal.33-34

[7]Definisi tersebut dijelaskan di dalam bukunya mulai dari halaman 34 – 36 dan selanjutnya pada halaman 37 dari bukunya menjelaskan sumber-sumber pemikiran dan peradaban Islam, akan tetapi penulis belum mencantumkan definisi pemikiran dan peradaban yang didefinisakan dari sumber tersebut.

[8]Hamid Fahmi Zarkasyi, Membangun Peradaban Islam Kembali, Makalah yang dimuat di dalam situs www.insistsnet.com,hal.2

[9]Ibid,hal.3

[10]Hamid Fahmi Zarkasyi, Diktata Mata Kuliah : Islamic Worldview, disampaikan dalam seminar kelas pada Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) semester pertama.

[11]Hamid Fahmi Zarkasyi, Pandangan Hidup Islam Sebagai Framework Studi Islam, makalah yang dimuat di dalam blog Banihamzah.com



0 komentar:

Poskan Komentar